Kisah indah dan menyentuh tentang cinta masa muda ini dipuji oleh koran New York Times sebagai "suatu capaian luar biasa dari lirisme yang gilang gemilang". Mereka yang dimabuk asmara adalah Johannes, putra sang pemilik pabrik jagung dan Victoria, putri dari bangsawan penguasa kastil. Momen-momen kenikmatan puncak cinta mereka yang singkat sama fananya dengan mimpi-mimpi mereka, terpisah selamanya oleh status sosial mereka dalam masyarakat. Mereka menjalani kehidupan yang berbeda, dipaksa oleh keadaan untuk melestarikan kekejaman sempitnya status sosial secara turun-temurun. Hanya di bagian terakhir, kita bisa menyaksikan ketidakmampuan Victoria untuk hidup tanpa Johannes.
Prosa yang tampaknya sederhana dan menyentuh ini telah mengungkap kehebatan Knut Hamsun sebagai salah seorang pengarang yang mampu mengejar dan menemukan keindahan dalam kenestapaan. Visinya tentang cinta bertebaran di antara rekahan mawar dan darah.
Knut Hamsun, peraih penghargaan Nobel Sastra tahun 1920, dikenal sebagai salah satu pengarang besar yang mencurahkan gagasan tentang kesadaran modern. Victoria adalah salah satu karya terbaiknya yang diilhami oleh kebijaksanaan yang sederhada, yang membuatnya terasa segar. Karya novel-novelnya yang lain adalah Mysteries, The Wanderer, Growth of The Soil, The Woman at The Pump, Wayfarer dan Dreamers. Karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah Lapar dan PAN.