Sama seperti Rahmat, Satria juga belum mengenal cinta. Namun, baik Rahmat ataupun Satria merasakan cinta itu tumbuh tanpa bisa mereka hentikan. Ketika masa panen dan berburuh tani ke Tegalurung, Satria berjumpa dengan Ibu Ening dan Rahmat. Demikian, Satria dan Rahmat tidak sekadar berhubungan sebagai majikan-buruh, tetapi juga sebagai sepasang kekasih rahasia. Cinta saling berbalas dan setara. Namun, jauh dalam lubuk hati masing-masing, mereka masih mempersoalkan cinta semacam ini. Mereka mempermasalahkan diri masing-masing tentang ketulusan yang dinaungi tekanan permasalahan keluarga, ekonomi, status sosial, agama dan norma sosial.
Di saat cinta bersemi, datang dua perempuan, Siti Mubarokah dan Ratih ke dalam kehidupan masing-masing...